Kodam V/Brawijaya

Komunisme bukan lagi Potensi, tetapi Telah Menjadi Ancaman Nyata

Dibaca: 3 Oleh 08 Sep 2015Tidak ada komentar
#TNIAD, #TNIADMengabdiDanMembangunBersamaRakyat
Lamongan ( 07/09 ) Masalah Komunisme bukan lagi menjadi potensi saat ini, tetapi telah berubah menjadi ancaman nyata, hal itu terbukti bahwa akhir – akjhir ini banyak muncul kegiatan masyarakat yang seolah sengaja menggunakan atau menggambarkan lambang – lambang bergambar palu arit ditempat – tempat umum.
Padahal banyak tokoh sejarah baik lokal maupun nasional masih hidup, yang bisa ditanya tentang  peristiwa Madiun 1948 pimpinan Muso dan peristiwa G 30 S/PKI 1965 pimpinan DN Aidit,  dan kepadanya bisa ditanya tentang bagaimana kebiadaban partai berlambang palu arit tersebut, jika seandainya para generasi muda kurang meyakini buku – buku tentang kebiadaban Komunis di bumi Indonesia hingga diterbitkannya TAP MPRS Nomor 25 Tahun 1966.
Tidak mau terlambat dan bertindak cepat dalam mengambil langkah internal, Dandim 0812/Lamongan Letkol Inf Jemz Andre R.E,S.Sos menyampaikan arahannya kepada segenap anggotanya dalam bentuk Jam Komandan di Aula Kadet Suwoko pada Senin 7 September 2015 selepas Upacara Bendera, yang diikuti tidak kurang dari 350 personel militer dan PNS Kodim Lamongan.
Dalam arahannya tentang maraknya indikasi bangkitnya Komunisme di Indonesia, Letkol Jemz menyampaikan bahwa hendaknya seluruh personel  harus waspada dan bersikap mau tahu serta peka terhadap maraknya faham Komunisme akhir-akhir ini,  banyak cara yang dilakukan untuk menghidupkan kembali faham Komunis atau PKI di Indonesia, “ Contoh kecil saja di Sticker Kaos yang tertulis Helowin, tetapi didalam huruf O menggunakan lambang Palu Arit, kita tidak mengetahui apa maksud dan tujuan mengunakan lambang itu tetapi yang jelas bahwa lambang tersebut adalah lambang Partai Komunis Indonesia yang berdasarkan TAP MPRS Nomor 25 Tahun 1966 dilarang, dan hal tersebut adalah masalah serius bukan hanya bagi kita, tetapi bagi segenap bangsa Indonesia “ tegas Letkol Jemz.   Untuk itu para Danramil dan para Babinsa banyaklah bersosialisasi dalam berkomsos dengan masyarakat tentang hal tersebut, agar para generasi muda kita, khususnya wilayah Lamongan tidak menjadi korban  “ Cuci Otak “ yang dilakukan oleh kelompok – kelompok mereka, tambahnya.
 Pada kesempatan tersebut, Dandim juga menekankan masalah pupuk, bahwa di Mojokerto telah terjadi penimbunan pupuk, dimana pada  musim kemarau sekarang banyak terjadi penimbunan karena tidak banyaknya penggunanan pupuk yang seharusnya didistribusikan, mungkin karena alasan masyarakat tidak punya uang akhirnya di himpun oleh orang tertentu dan di salah gunakan, untuk itu Dandim memerintahkan kepada prajurit jajarannya untuk tetap mewaspadai hal itu, jika ditemukan penyalahgunaan pupuk bersubsidi di wilayah Lamongan maka segera laporkan dan segera di tindak lanjuti.
Menurutnya, yang paling utama dalam Swasembada Pangan diwilayah Lamongan adalah harus tercapainya target daya serap 17.000 ton padi / gabah, TNI-AD belum pernah gagal dalam melaksanakan program, dan untuk itulah pemerintah mengandeng TNI-AD dalam program Swasembada Pangan, dan  daya serap saat ini baru 37 % dari 17.000 ton, maka kekurangannya harus tercapai sampai batas 30 September 2015, semua ini peran Babinsa dan Danramil.
Adapun setelah pelaksanaan Jam Dan, seluruh anggota secara langsung menerima sosialisasi bahaya narkoba dari Tim Polres Lamongan. ( Penrem 082/CPYJ )

Kirim Tanggapan

Made with passion by Vicky Ezra Imanuel